Dakwah Informasi

Flexing di Medsos: Berburu “Like” Dunia, Bangkrut di Akhirat

Hari ini, tantangan iman terbesar kita tidak lagi berbentuk berhala dari batu, melainkan sebuah layar berukuran 6 inci bernama smartphone. Di balik layar itu, ada sebuah candu baru yang sedang merusak mental dan merampok pahala umat Islam secara massal. Fenomena itu bernama flexing—alias pamer kemewahan, pamer pencapaian, dan pamer status sosial demi mendapatkan validasi duniawi berupa angka likes, views, dan followers.

Dulu, orang pamer harta harus mengundang tetangga ke rumahnya. Sekarang? Cukup rekam kemudi mobil mewah, foto cangkir kopi mahal di kafe estetik, atau pamer saldo rekening di TikTok, maka jutaan orang langsung bisa melihatnya dalam hitungan detik.

Pertanyaannya: Untuk apa? Demi dipuji kaya? Demi dianggap sukses? Demi dipuja sebagai manusia tanpa cela?

Islam tidak melarang kita menjadi kaya. Islam juga tidak melarang kita menikmati rezeki yang halal.

Namun, Islam sangat mengharamkan sifat sombong, riya, dan keserakahan yang lahir dari aktivitas pamer tersebut.

Rasulullah SAW sudah mengingatkan kita dalam sebuah hadis yang sangat tegas:

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Bayangkan, cuma sebesar biji sawi kesombongan di dalam hati, jaminan surga bisa melayang. Lalu bagaimana dengan kita yang setiap hari sengaja menata feed Instagram agar terlihat lebih mewah dari orang lain? Bagaimana dengan kita yang merasa lebih tinggi derajatnya hanya karena memakai pakaian bermerek?

Ingat, setiap kali kita melakukan flexing, ada dua bahaya besar yang mengintai akhirat kita:

Pertama, Penyakit Riya dan Sum’ah (Ingin Dilihat dan Didengar).
Amal ibadah dan kebaikan kita bisa hangus tak bersisa di hadapan Allah jika niatnya sudah bergeser untuk mencari pujian manusia. Kita sibuk membangun citra sebagai “hamba yang sukses” di dunia, tapi di buku catatan malaikat, kita justru terdaftar sebagai hamba yang bangkrut.

Kedua, Menjadi Penyebab Penyakit ‘Ain dan Dengki pada Orang Lain.
Video pamer yang kita unggah bisa jadi ditonton oleh seorang ayah yang baru saja di-PHK, atau seorang ibu yang sedang bingung mencari uang untuk membeli susu anaknya. Ketika mereka melihat kemewahan kita lalu merasa ciut, sedih, atau bahkan timbul rasa hasad (dengki), maka secara tidak sadar kita telah menjadi mesin pemanen dosa jariyah. Kita menyebarkan energi negatif dan kesedihan kepada sesama Muslim hanya demi kepuasan ego sesaat.

Algoritma media sosial dirancang untuk memuaskan pandangan manusia, sedangkan syariat Islam dirancang untuk mencari ridha Allah. Jangan biarkan algoritma merampok akhiratmu.

Kekayaan sejati bukanlah apa yang bisa kita pamerkan di layar gawai, melainkan apa yang bisa kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak. Mulai hari ini, mari kita ubah gawai di tangan kita menjadi jembatan menuju jannah, bukan mesin pemanen dosa. Kurangi pamer, luaskan syukur. (by. Masykur A Baddal)

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment